Bienvenue ami ...
Thankyou for visiting my blog. Have a good thing here. God bless you.

Tuesday, June 21, 2011

Belajar berdoa dari tukang rujak

Belajar berdoa dari tukang rujak
Mumpung libur kuliah, pagi hari kupakai kesempatan ke pasar tradisional yang tinggal jalan kaki 2 menit dari rumah. Menjelang pulang, di ujung gang pasar ada tukang rujak, kuminta dibuatkan 5 ribu rupiah untuk siang ini. Karena tangan kanan kiri sudah penuh dengan plastik-plastik belanjaan nan berat, kuminta abang rujak mengambil dompet dari tangan kananku, membuka dan mengambilnya sendiri 5 ribu dari dompet itu. Si abang kelihatan rada bingung. Kuulangi permintaanku sambil minta maaf kepadanya karena tanganku sudah penuh barang. Lalu dia ambil dompet itu, dibukanya dengan sikap ragu-ragu dan tangan gemetaran. Dia minta ijin berkali-kali untuk mengambil uang 5 ribu. Lalu kutanya: "mengapa tangannya gemetaran, Bang?". Ia menjawab: "saya takut Bu, gak pantes ngambil uang sendiri dari dompet Ibu, baru kali ini disuruh ngambil uang sendiri dari dompet pembeli."  

Sambil berjalan pulang, saya berpikir : 
Kapan terakhir saya gemetar karena merasa tidak pantas atas kepercayaan Tuhan yang begitu besar dalam hidupku? Wah, sudah tidak ingat.  


"Tuhan, berilah saya sikap gemetar karena kagum dan hormat terhadapMu, 
untuk setiap kali memberikan rahmat serta kepercayaan yang begitu besar 
kepadaku yang tidak pantas ini..." 

Terima kasih Abang tukang rujak yang telah mengajari aku berdoa pagi ini..



Jakarta, 21 Juni 2011


Ilustrasi diambil dari www.google.com

Tuesday, May 24, 2011

"Orang Gila Membuat Ayunan"




ORANG GILA MEMBUAT AYUNAN


Hari Minggu pagi, dua orang anak usia 5 tahun-an bercakap2 di depan pintu rumahku
A : "Horeee...Miss Monica bikin ayunan dan prosotan buat kita main-main"
B : "Bukan Miss Monica yang bikin itu, tau? Orang lain yang buatin ayunan-nya, orang gila!"
A : "Nah lu, koq orang gila bisa bikin ayunan?

Setelah kurenungkan, anak kecil itu benar !
Di tengah zaman google yang membuat banyak anak tergila-gila pada mainan-mainan elektronik yang sangat  egosentrik, tetap dibutuhkan orang-orang gila yang memiliki hati untuk membuatkan mainan-mainan
yang mendorong anak-anak saling membutuhkan teman agar mereka dapat bergembira bersama-sama...

Terima kasih dik, untuk percakapan kalian...

Jakarta, 24 Mei 2011

Friday, May 20, 2011

PEDIGREE


PEDIGREE

Kuingin kau tumbuh baik
Meski tak setara manusia
Kau tampak sangat cerdik
Dapat diajak bersukaria

Setia adalah sifat utamamu
Ingin dekat dimana tuanmu berada
Cari perhatian di raut wajahmu
Setelah seharian kita tak jumpa

Dengan cekatan naik ke pangkuan
Hanya demi unjuk kebersamaan
Lalu kau tidur dengsan nyaman
Menikmati rasa puas dan aman

Kau minta apa yang kumakan
Bagaikan tak pernah kenyang
Kusisihkan 260 ribu tiap bulan
Agar kau tetap menyalak lantang

Saturday, April 23, 2011

SABTU SUCI 2011



SABTU SUCI 


Yang mahatinggi turun ke kubur
Sang terang masuk makam gelap
Sumber hidup disalib dan gugur
Anak Manusia lunglai terbaring lelap 

Jubah ungu melepas detik-detik getir
Hitam menangisi dosa nan kelam
Merah menandai darah sang martir
Putih suci membaharui masa silam

Oh wajah mulia yang lelah dan hancur
Menebus yang hina dengan cinta luhur
Kembali kepada Bapa sebagai Sang Silih
Keheningan suci menebar harum kasih

Pesona Tubuh yang tercabik oleh dosa  
Pengosongan Diri semerbak mewangi
Misteri yang tak ternoda oleh binasa
Sakramen Allah yang tak tertandingi 

Maut tak membuat cinta surut
Kematian bukan akhir kisah
Kesedihan tak kan berlarut
Tersedia kebangkitan cerah

Jakarta, 23 April 2011

Friday, April 22, 2011

Jum'at Agung 2011


Salib....
Melampaui cinta diri
Mengatasi rasa sakit
Menyeberangi batas

Salib....
Misteri segala yang ada
Mengasihi tanpa memiliki
Memberi tanpa menguasai

Salib....
Kepenuhan dari pengosongan diri
Kemuliaan dari hamba yang dihina
Kerendahan hati yang tertinggi

Salib....
Tak terserap habis oleh budi
Tak tuntas terungkap dalam kata
Tak terselami sepanjang masa

Sunday, April 10, 2011

SENANDUNG DI BALIK AIR




SENANDUNG DI BALIK AIR

Rumahku tak lagi tenang
Penuh umpan menantang
Ingin kuberseru lantang
Mari ikut kami berenang

Teman-temanku menghilang
Diseret tangan-tangan jalang
Membuat para tuan senang
Dan berteriak dengan girang

Oh teman, kau pergi tak kembali
Terjerat lemparan tali-tali
Ragamu kan tumpah di kuali
Seandainya kubisa jadi wali

Oh siapa gerangan di atas sana ?
Yang membuat hatiku cemas
Tak lelah sampai umpanmu kena
Mengapa tak biarkanku bebas ?