Bienvenue ami ...
Thankyou for visiting my blog. Have a good thing here. God bless you.

Sunday, November 28, 2010

Adven 1

Monica Maria Meifung - Adven 1 - 2010

Lilin dinyalakan, satu saja bukan empat
Manusia diingatkan, akan datang Penyelamat
Bangunkan yang tertidur, kembalikan yang tersesat
Tuk berjaga dengan hati luhur, dan menata sikap hormat

Kemewahan tak Kau pilih, jalanMu lewat kadang hewan
Hai dunia dan diri yang ringkih, keluarlah dari tawanan    
Datanglah oh datanglah Tuhan, hatiku penuh kerinduan
Seraya pikirkan haluan, untuk disasar kepada tujuan

Thursday, November 25, 2010

Telling The Story of Jesus



Misi di Asia : Menceriterakan Kisah Yesus
“Telling The Story of Jesus”
By : Mgr. Luis Antonio G. Tagle, Uskup Imus, Philiphina

Kongres Misi Asia, Chiang Mai, Thailand, 19 Oktober 2006.
Diterjemahkan oleh : B.S. Mardiatmadja, SJ.

            Kongres Misi Asia adalah suatu kesempatan untuk merayakan panggilan Gereja menjadi misioner. Kongres ini mengenangkan dengan penuh syukur jalan-jalan misioner yang telah diambil oleh Gereja di Asia. Kongres ini bersukacita atas upaya terus-menerus dalam misi, dengan menjadi saksi dari kekuatan iman dan cinta kasih. Kongres mengundang kita untuk melibatkan diri sekali lagi kepada panggilan abadi Yesus Kristus agar kita membawa Kabar Baik mengenai Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Kongres juga mendesak kita untuk mencari jalan-jalan baru guna memahami dan menjalani misi, dalam kesetiaan kepada Tradisi Gereja yang kaya, tetapi dengan peka terhadap realitas yang dihadapi oleh rakyat Asia.
            Dapat dikatakan bahwa sejarah Gereja adalah sejarah misi. Sejarah yang berlapis-lapis dan beraneka warna ini, bermula dari jaman Perjanjian Baru, menjadi saksi dari banyak jalan yang dipergunakan oleh Gereja untuk memahami dan melaksanakan misi. Kita dapat menambahkan kenyataan bahwa sementara Gereja yang satu ini bersifat universal, dia pun hadir dalam gereja-2 setempat, yang memiliki sejarah dan situasi-2 yang sangat unik, dan karena itu juga mempunyai pengalaman-pengalaman dan pengertian-pengertian tentang misi yang unik pula. Paus Johannes Paulus II meneguhkan dalam Redemptoris Missio suatu pemahaman dasar Ad Gentes, bahwa misi, memang merupakan satu realitas tetapi sekaligus juga kompleks, serta berkembang dalam cara yang beraneka warna. Melanjutkan dinamika Gereja mencari jalan-2 untuk melaksanakan misi yang selaras dengan waktu dan tempat yang tertentu, kongres kita mengusulkan suatu pemahaman dan praktek misi yang berfokus pada Kisah Yesus di Asia.
            Sebuah kisah tidaklah sekedar suatu ceritera. Sebuah ceritera adalah suatu kisah yang sejati apabila diceriterakan atau dinarasikan, dan mudah-mudahan didengarkan. Pada masa sekarang, salah satu sebutan dari ber-kisah adalah “sharing”. Dalam Ecclesia in Asia, Paus Johannes Paulus II melukiskan misi sebagai sharing tentang cahaya iman dalam Yesus, suatu anugerah yang diterima dan suatu karunia yang dibagikan kepada rakyat Asia. Sharing itu dapat mengambil bentuk berupa menceriterakan kisah Yesus. Saya yakin bahwa, menceriterakan kisah Yesus menyediakan suatu kerangka yang kreatif untuk memahami misi di Asia, suatu benua yang kebudayaan dan agama-agamanya berakar pada kisah-2 besar atau “epos”. Paus Johannes Paulus II juga mengakui bahwa metode berkisah itu serasi dengan bentuk-bentuk budaya yang disukai untuk mewartakan Yesus di Asia (E.A no.20).

Wednesday, November 24, 2010

Mendampingi Anak2 Jalanan ...


Monica Maria Meifung - Jakarta, 2010
"Yang paling sulit untuk diatasi bukanlah kemiskinan itu sendiri tetapi dampaknya ...." 

(Wawancara melalui email oleh seorang petugas sebuah buletin rohani :) - dibuang sayang..

Shalom, Mbak Meifung, 
Berikut ini pertanyaan seputar karya dampingan Komunitas Putri Sion pada anak-anak jalanan. (Mbak Meifung, untuk jawaban wawancara ini, mohon juga disertakan contoh konkrit bila ada).Terima kasih.

1. Bagaimana karya pendampingan ini dilakukan? Mohon dijelaskan.
Senin-sabtu para pendamping terikat jam kantor, maka pendampingan dilakukan hanya setiap hari Minggu siang, Pk.14.00-16.00 di Stasiun Juanda, dengan mengambil tempat di salah satu teras atau pojokan kosong yang tidak terlalu banyak dilalui orang. Kami tidak mengundang / membawa mereka ke suatu tempat lain yang mungkin dianggap lebih layak (aula, rumah, dsb) karena ingin membuat mereka tetap merasa nyaman di tempat mereka berada, jadi kami yang mendatangi mereka, bukan mereka harus datang ke tempat kami. Sebagian anak drop-out sekolah, pendampingan dilakukan dengan model menemani mereka belajar, membantu mereka untuk lancar menulis, berhitung dan membaca : mereka diharapkan kelak bisa hidup normal dengan 3 kemampuan minimal ini, dalam arti :  tidak mudah ditipu orang karena buta huruf dan tak bisa menghitung. Bagi mereka kami siapkan juga pengobatan kecil seperti P3K, obat umum sehari-hari berkisar pada keluhan : pusing, masuk angin, flu, batuk, gatel-gatel.   

 2. Adakah pemetaan terhadap kemiskinan anak-anak jalanan tersebut? (dari sisi asal, jumlah, dll. Bila ada, mohon dijelaskan. 
Beberapa tahun yang lalu mencapai 40 - 75 anak, jika ada event-event tertentu (perayaan ulang tahun, buka puasa bersama, dsb) bisa mencapai 100 anak. Tetapi karena penggusuran, banyak yang pindah ke tempat lain yang lebih aman atau pulang ke kampung, jumlah mereka sekarang berkisar 25-40 anak.
Kebanyakan dari keluarga pemulung yang salah satu markas pengumpulan barangnya ada di ujung stasiun Juanda yang ke arah Sawah Besar. Sebagian dari orang tua mereka berjualan / buka warung kecil di sekitar stasiun. Mereka datang dari Jakarta, dan sebagian perantau dari Bogor dan Jawa Tengah. 
Misalnya : seorang ibu berjualan teh botol, memerlukan waktu setengah tahun mengumpulkan uang untuk bisa membayar uang buku dan seragam anak seharga Rp.175.000,- Keluhan anak dipulangkan karena berbulan-bulan tidak membayar uang sekolah, itu sudah amat biasa. Beberapa orang tua (dan anak juga) putus asa dan memutuskan untuk berhenti sekolah.. Sekolah Gratis yang mereka bayangkan dianggap hanya memberi harapan kosong karena nyatanya selalu ada sejumlah uang (seragam, iuran tabungan, buku, dsb) yang harus mereka bayarkan ke Sekolah. 

 3. Berdasarkan pengalaman / pengamatan pendampingan, persoalan apa sebenanrnya yang dihadapi anak-anak jalanan tersebut? kemiskinan semacam apa yang dialami anak-anak jalanan tersebut. Mohon dijelaskan. 
Di balik kemiskinan, mereka menderita banyak hal lain sebagai dampaknya, dan seringkali yang paling sulit untuk diatasi bukanlah kemiskinan itu sendiri tetapi dampaknya. 
A. Pergaulan : (dari ceritera-ceritera polos mereka) mereka menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga, entah itu orang tua mereka sendiri maupun melihat tetangga / keluarga lain mengalami hal tersebut, pelecehan seksual, omongan-omongan kotor ala orang tua, dsb. Itu terbawa dalam gaya bicara mereka (karena meniru) yang kasar, liar, binal dan sungguh terdengar tidak biasa di telinga kita. Saya kadang melihat anak perempuan umur 11 tahun tapi berdandan ala perempuan dewasa dan "mejeng" di jalan dengan harapan ada yang mengajaknya berteman (maaf : seperti anak yang "melacurkan diri")
B. Pelanggaran : beberapa anak mengalami kenalan atau anggota keluarga mereka masuk penjara karena mencuri, terkena razia ketika sedang mengamen atau berjualan di jalan, melarikan diri dari  rumah penampungan. saya berkali-kali harus menolong anak yang kakinya luka-luka tertusuk beling/benda tajam akibat melarikan diri dari kejaran polisi di jalan. 
C. Kemiskinan mental : tidak sedikit anak ketika ditanya kelak kalau sudah besar mau jadi apa, tidak mampu menjawab, kendati kami mencoba memberi semangat dan memompa motivasinya. Artinya : mereka hidup dalam keputus-asaan yang berat (baik keluarga sendiri maupun lingkungan sekitar) sehingga tidak berani lagi bermimpi tentang hidup dan masa depannya. Seorang anak waktu saya tanya nanti mau jadi apa, ia menjawab : "gak tahu, bapa-ibu saya saja cuma pemulung, emangnya saya mau jadi apa"? Saya terkejut dan merasa tertampar dengan jawaban ini.
Ada lagi, seorang anak perempuan, 9 tahun, putus sekolah ketika kelas 1 SD. Kami mencoba menolong mengurusi semua hal sampai ia bisa masuk sekolah kembali, kami janjikan akan menjamin uang sekolah, uang buku, dsb sampai ia lulus SD. Apa yang terjadi ? Orang tua marah-marah karena sejak kembali Sekolah mereka merasa direpotkan dengan anak yang lebih sering meminta uang jajan ketimbang ia tidak sekolah dan mengamen sehingga bisa cari uang jajan-nya sendiri. 3 bulan kemudian, anak kembali ke jalanan dan tidak mau sekolah. Inilah yang saya maksud dengan : mengeluarkan mereka dari kemiskinan mentalitas dan kemiskinan spiritual, jauh lebih sulit daripada membawa mereka keluar dari kemiskinan material.

 4. Apakah solusi yang dilakukan terhadap persoalan anak-anak jalanan tersebut? Adakah metode yang dipergunakan? Mohon dijelaskan.
Tidak ada, mengingat kami hanya bisa mendampingi mereka seminggu sekali dan hanya 2 jam. Kami hanya menyediakan diri menjadi teman belajar, juga tempat mereka dan orang tuanya bisa berkeluh kesah menumpahkan uneg-uneg pergumulan hidup mereka yang berat. Membantu orang tua dengan nasehat-nasehat umum,  (dan sedikit pendidikan budi pekerti dlm dongeng-dongeng / ceritera kepada anak-anak balita) agar mereka bertahan di medan hidup yang keras. Tidak ideal, memang, tetapi memaksakan diri merasul dan mengerjakan yang di luar batas kemampuan kami, bisa membuat kami frustrasi juga kan ? ha haa haa.... :) Biarlah itu menjadi PR Pemerintah atau Departemen Sosial, tugas kami adalah menjadi pembawa cinta kasih dan Kabar Baik seturut kemampuan dan situasi yang dapat kami jangkau. Saya masih bermimpi ada tenaga-tenaga baru yang lebih full-time yang Tuhan sediakan bagi kami dan bagi mereka. 

 5. Apa yang menjadi tujuan dari pendampingan anak-anak jalanan yang dilakukan Komunitas Putri Sion? mohon dijelaskan. Adakah dari anak-anak yang didampingi tersebut bisa survive / bisa memberdayakan hidup mereka sendiri? Mohon dijelaskan.
Karya ini (6 tahun yang lalu) dilakukan secara spontan dan tidak sengaja, tidak didahului dengan suatu perencanaan program dan penyusunan proposal yang matang dan hebat, tetapi bagaikan sebuah realita yang "dijatuhkan" oleh Tuhan di depan hidung kami. Tidak ada visi misi khusus sebelumnya, jadi lebih termotivasi dan digerakkan oleh hati yang bersatu (dari semua anggota komunitas) dan mau melayani menurut peluang-peluang yang disediakan Tuhan dan seturut semangat Gereja "option for the poor". Jadi, tujuan kami sangat sederhana : mau menjadi teman bagi anak-anak miskin tanpa ambisi menyelesasikan seluruh problema kemiskinan mereka. Jika ada sumber-sumber (dana, barang, bahan sandang dan pangan) yang kami terima dari donatur, ya kami salurkan, kalau tidak ada, kami tetap menemani mereka dengan menyediakan waktu, perhatian, tenaga dan kemampuan yang ada untuk membuat mereka bisa belajar dengan lebih baik. Maka kami melayani tanpa terlalu banyak "stress" karena tak punya banyak target selain mengikuti gerakan Roh Tuhan yang membimbing dan "mengutus" untuk membawa hati dan kasih-sayangNya kepada anak-anak jalanan itu. Maka, setiap Minggu, kami mengambil waktu 2 jam (pk.12.00-14.00) untuk pertemuan komunitas : berdoa, merenungkan sabda Tuhan, mendalami ajaran-ajaran Gereja, sharing iman, dsb, sebelum kami "turun" ke jalanan, untuk membuat kami yakin bahwa sumber-sumber yang dibagikan kepada anak-anak itu bukanlah beasal dari kehebatan dan kemapanan diri sendiri, melainkan sungguh berasal dari Tuhan. Cita-cita kami : membawa kepada mereka cinta kasih yang "otentik" dari Tuhan. Tidak mudah, tetapi sejauh ini hal tersebut selalu membuat kami mau melakukannya dengan penuh kegembiraan dan harapan. 

Anak-anak itu bisa survive karena pada umumnya mereka mempunyai orang tua sehingga perjuangan mereka bukan hanya perjuangan individu melainkan perjuangan keluarga, ini juga membuat mereka kuat ya. Saya punya beberapa pengalaman yang memperlihatkan semangat survive dan semangat memberi serta solidaritas mereka jauh lebih tinggi daripada kita yang sehari-hari hidup dalam kondisi serba berkecukupan. Saya sering pulang ke rumah dengan membawa "Good News from the poor". 

Tuesday, November 23, 2010

Jangan saling melukai ...


Dialog Antar Agama ... 
Monica Maria Meifung


Tadi sore saya mendapat wawancara melalui email, pertanyaannya antara lain
"Apa pendapat ibu tentang dialog antar umat beragama ? Bagaimana cara berdialog yang baik menurut ibu, dan masih perlukah dialog antar umat beragama ?"

Jawaban singkat dan spontanku  kepadanya :
Dialog antar umat beragama, bukan hanya perlu tetapi seharusnya menjadi kebutuhan setiap orang. Kalau dengan teman-teman se-agama saja diperlukan komunikasi dan dialog untuk memupuk dan meningkatkan kesatuan, lebih-lebih dengan yang berbeda agama. 

Mengabaikan dialog dapat menimbulkan dan menyuburkan salah paham, gesekan, dan pelbagai kecurigaan yang menyakitkan. Tanpa dialog orang dapat terus saling curiga sampai melumpuhkan kerjasama. Kecurigaan membuat orang saling melukai. Namun dialog menyembuhkan dan menguatkan orang untuk belajar menimba kekayaan satu sama lain, dan membangun kreativitas untuk menemukan keindahan di balik perbedaan-perbedaan. Dialog menumbuhkan saling pengertian, persaudaraan dan kerjasama yang efektif untuk kebaikan semua pihak. 

DIALOG yang baik mengandaikan adanya kemauan/kehendak baik pada semua pihak yang terlibat, tidak bisa sepihak. 

DIALOG yang baik membutuhkan syarat adanya kesepakatan sikap dalam mempersepsikan perbedaan-perbedaan. Kesenjangan dalam pendidikan, pengalaman, pemahaman dan persepsi di antara pihak-pihak yang terlibat, dapat secara serius menghambat dialog.

DIALOG juga mengandaikan adanya tujuan yang sama, yaitu demi terbangunnya persaudaraan yang menumbuhkan kebaikan pada semua pihak. Maka harus dilaksanakan dengan jujur dan tulus, tidak boleh dibelokkan atau dipolitisir ke arah kepentingan sepihak dari agama ataupun  golongan tertentu.

Akhirnya, DIALOG yang baik harus dimulai dengan menjalankan hidup secara baik, sesuai nilai-nilai ajaran agama masing-masing. Dialog bukan hanya pertukaran ide atau gagasan, tetapi juga saling berbagi kesaksian hidup yang otentik demi tumbuhnya persaudaraan sejati, pembangunan martabat manusia, dan sikap hormat terhadap keragaman. 

Semoga dialog antar umat beragama tumbuh subur dan memperlihatkan buah-buah yang menggembirakan di Indonesia. 

(Silakan memberi masukan dan memperkaya jawaban saya ...)

Tuhan-nya miss itu siapa sih ...?


Sharing / Dialog Iman 
Monica Maria Meifung - Jakarta, 2008

Sejak permulaan tahun 2000, saya bersama teman-teman komunitas melayani pendampingan belajar untuk 60-80 anak dari keluarga pra-sejahtera di daerah ‘agak kumuh’ di Jakarta Pusat. Kami menyediakan diri selama 3 jam setiap hari minggu (14.00–17.00) untuk membawa nilai-nilai Kerajaan Allah melalui tindakan menemani mereka belajar, bermain, memberi makan, memberi obat, dan sebagainya.
Cukup banyak anak yang setia dari awal, mulai dari mereka berusia 6 tahun sampai menginjak usia SMP kelas 2. Dalam suatu kurun waktu, dari minggu ke minggu hampir selalu ada anak yang penasaran dan bertanya : “miss, miss agamanya apa sih ?” Kami sepakat untuk mewartakan Kabar Baik bukan lewat penyebaran pelajaran agama, karena lingkungan kami amat homogen : 95% penduduk asli betawi, muslim. 
Sebulan yang lalu, saya dikejutkan oleh seorang anak perempuan, Santi, 13 tahun (nama samaran) yang tiba-tiba berdiri di depan saya, membentangkan tangannya dan menyodorkan mukanya kepada saya untuk minta dipeluk dan dicium. Berkali-kali ia minta, ia bilang : “peluk saya dong miss, enak dan hangat”, dan ia juga mencium saya. Lalu dengan tidak terduga ia bilang : “miss, kenapa sih selama ini miss nggak pernah ceritera tentang agamanya miss ? Tuhannya miss itu siapa dan kaya apa ?” Berhari-hari tidur saya ‘terganggu’ karena memikirkan pertanyaan anak perempuan itu. Tindakannya membawa saya kepada suatu kenangan :
•   Sejak usia 25 tahun saya sudah tak punya ayah-ibu, dalam doa dan meditasi saya selalu membayangkan berdiri di depan Tuhan Yesus, merasakan Dia memeluk dan mencium saya dengan kehangatannya, memuaskan dahaga dan lapar saya akan kasih sayang sampai saya dimampukanNya untuk membagi kehangatan itu kepada sesama.
•   Selama 8 tahun saya tidak pernah menceriterakan Kisah Kristus secara verbal dalam pelayanan menemani anak-anak itu belajar, namun tindakan Santi meyakinkan saya bahwa kehangatan Kristus yang merasuk dalam diri kami, ikut menjalari jiwa dan tubuhnya, yang memungkinkan ia untuk mulai menangkap bahwa “Ada Seorang Pribadi” di belakang kami, dan memungkinkan dia untuk memulai suatu proses pencarian yang tidak boleh dianggap sepele : “Tuhan-nya miss itu siapa dan kaya apa ?”, katanya. Saya percaya, Tuhan sendiri akan menemani proses pencarian seorang Santi dalam seluruh hidupnya. Saya menemukan mutiara Kerajaan Allah dalam dirinya. Saya mendapat perspektif baru akan ceritera Yesus tentang si pemuda kaya yang menjual seluruh harta miliknya untuk membeli mutiara itu …. Terima kasih Tuhan..

Sakramen Ekaristi / Eucharistie

 “Sakramen Ekaristi Menyuburkan
cintaku pada Kristus dan Sesama”

Monica Maria Meifung.
Sharing iman mengenai Sakramen Ekaristi pada Seminar Ekaristi,
 Kamis, 5 Mei 2005 di Paroki Arnoldus, Bekasi.

MENGAPA HARUS PINDAH GEREJA ?

Saya anak ke 4 dari 5 bersaudara, ayah Protestan, ibu Budha. Waktu menginjak usia sekolah, saya dimasukkan ke sebuah sekolah katolik (dikelola dan dipimpin oleh awam) yang sesekali menyelenggarakan misa untuk murid-murid. Tak ada sesuatu yang mengesan yang mampu saya ingat mengenai misa-misa di sekolah, karena sejak kelas 1 SD sampai dengan kelas 5 SD, kehidupan beriman saya tumbuh melalui Sekolah Minggu dan kebaktian di sebuah Gereja Pentakosta (selain karena tidak mengerti dan belum pernah ada yang menerangkan kepada saya apa itu misa). Ayah tak pernah ke gereja, saya rajin ke gereja karena diajak teman-teman tetangga dan merasa senang dengan banyak “oleh-oleh” yang didapat sepulang dari Gereja.

Ketika kelas 4 SD, seorang guru agama di sekolah mendaftarkan dan mengajak saya untuk “belajar agama” seminggu sekali sesudah jam sekolah usai. Saya sama sekali tak menyadari bahwa itu adalah kelas persiapan baptis menjadi katolik, kukira hanya pelajaran tambahan sekolah yang wajib diikuti. Kesadaran itu datang setahun kemudian ketika diberi formulir untuk dibawa pulang, harus diisi dan ditandatangani oleh orang tua. Kala itu saya masih rajin seminggu dua kali menghadiri kebaktian di sekolah minggu kesayanganku.

Seorang kakak perempuan yang sudah beberapa tahun lebih dulu menjadi katolik, mengejutkanku dengan berkata : “Nanti kalau kamu sudah dibaptis jadi katolik, tidak boleh pergi ke Gereja itu lagi ya…..” Dengan kebingungan saya tanya : “emangnya kenapa ?” Dengan ringan kakak menjawab : “Gerejanya berbeda !” Huuuu….. saya sedih bukan kepalang membayangkan harus berpisah dengan kakak-kakak pengasuh dan teman-teman yang kucintai, lalu (dengan tetap tak mengerti karena kukira semua gereja sama saja) saya tanya lagi : “jadi, saya harus pindah gereja, koq begitu ?” Pendek kata, mulai saat itu (umur 11 tahun) saya dilatih secara intensif oleh sang kakak untuk ikut kebaktian di gereja katolik. Sambil ikut misa, pikiran saya masih suka melayang di gereja yang sudah 4 tahun tekun saya hadiri. Koq beda ya ? Di “gerejaku” banyak nyanyinya, di “gereja kakakku” banyak doanya. Di “gerejaku” bisa nyanyi sambil melompat-lompat dan teriak-teriak, seru dan ramai sementara di “gereja kakakku” ini sunyi sepi dan semuanya tertib sekali. Di “gerejaku” kalau datang wajib membawa kitab suci, di “gereja kakakku” koq cuma bawa buku doa dan nyanyian (Madah Bakti). Di “gerejaku” kotbahnya lama, di “gereja kakakku” kotbahnya cuma sebentar sekali. Di “gerejaku” enggak ada rotinya, di “gereja kakakku” diberi roti kecil bulat dan tipis yang namanya hosti. Di “gerejaku” setiap pulang diberi PR yaitu satu ayat hafalan dari kitab suci, di “gereja kakakku” pulang nggak diberi PR apa-apa, yang harus dihafal bukan ayat-ayat kitab suci tetapi doa-doa : bapa kami, salam maria, aku percaya, doa tobat, dan seterusnya. Lengkaplah sudah kebingunganku di awal perpindahan gereja ini.