Bienvenue ami ...
Thankyou for visiting my blog. Have a good thing here. God bless you.

Monday, January 10, 2011

"Minjem koq gitu ?"

Candice Billicenira, 5 Tahun, 
putri bungsu Pasutri Thomas - Jiu Lie

Refleksi akhir tahunku.
Monica Maria Meifung

"Minjem koq gitu?"
Pertanyaan pendek ini keluar dari mulut Candice, 5 tahun, putri bungsu seorang sahabat bernama Pak Thomas Sulasbi, di kolam pemancingan. Tidak saya duga, ini menjadi suara Tuhan yang sampai hari ini terus menggema di hati saya, sebagai refleksi penutup akhir tahun 2010.

Waktu itu (Rabu siang, 29 Des 2010) umpan untuk mancing yang ada di tangan saya habis, lalu seorang teman yang duduk di tengah antara saya dan Candice minta tolong kepada Candice untuk mengambilkan mangkok plastik merah berisi umpan yang ada di depannya, dengan berkata :
"pinjam dong Candice, itu tempat umpannya". Saya terima mangkok merah itu melalui teman tadi. Supaya mangkok itu tidak mondar-mandir, maka saya ambil umpannya cukup banyak, sekitar seperempat dari keseluruhannya. Tindakan saya ternyata diamat-amati oleh Candice, yang ketika menerima kembali mangkok merah itu dengan spontan ia berseru : "Minjem koq gitu?" (Maksudnya, pasti, saya mengambil terlalu banyak).

Kami terkejut sambil terpingkal-pingkal atas sebuah respon tajam dan kritis dari seorang Candice. "Bener juga ya", minjem kok gitu ya?" kata sahabat kami. 

Entah mengapa, kalimat pendek dan kritis dari Candice terus terngiang-ngiang dalam doa-doa dan meditasi saya hari-hari ini. Seperti menjadi kalimat dari Tuhan yang menggugat :
- ketika saya menikmati berkat tanpa sikap berbagi dengan orang lain, padahal berkat itu hanyalah titipan Tuhan, bukan hasil kerja keras saya.
- ketika saya berbangga atas sejumlah keberhasilan dan merasa diri tak tertandingi, padahal keberhasilan itu cuma pinjaman dari Tuhan.
- ketika saya bersolek terlalu lama di depan cermin sambil mengagumi diri sendiri, padahal wajah itu cuma pinjaman dari Tuhan dan orang tua saya.
- ketika saya menghambur-hamburkan waktu dengan bermalas-malas dan mengerjakan yang tidak penting, karena mengira saya adalah pemiliknya, padahal cuma pinjaman Tuhan juga.
- ketika saya memboroskan uang dengan membeli apa-apa saja yang saya sukai, bukan yang saya butuhkan... Padahal itu uang yang dipinjamkan Tuhan kepada saya...
- ketika saya bersikap rakus terhadap ilmu pengetahuan 
dan melahapnya sampai merusak kesehatan, padahal tubuh saya dan kesempatan belajar yang ada pada saya, adalah tak lain dan tak bukan hanyalah pinjaman dari Tuhan, bukan milik diri saya sendiri....
- ketika saya tidak bertanggungjawab dan terlalu egosentrik dalam melaksanakan pelayanan, dengan sikap pilih-pilih menurut selera dan keuntungan yang bisa saya peroleh, padahal kemampuan melayani juga titipn alias pinjaman dari Tuhan.. 
- ahhh, masih banyak lagi. Semuanya cuma pinjaman dari Tuhan. Tapi saya sering bersikap tidak tahu diri, terlalu haus dan rakus mencarinya bagi kepentingan diri sendiri, kurang berterimakasih / bersyukur, mengembalikan kepada Tuhan secara tidak pantas, dan seterusnya.

Hanya satu kalimat pendek yang diajukan Tuhan kepadaku di hari terakhir tahun 2010 ini : "Minjem koq gitu?"

Tuhan, 
Semoga di 
tahun baru yang akan datang,
saya dapat memperbaiki diri, menjadi seorang "peminjam" yang lebih baik, lebih tahu diri, lebih bertanggungjawab dan lebih memuliakan Engkau.

Tuhan,
Terima kasih untuk seorang Candice yang Kau pakai untuk menyampaikan teguranMu kepadaku.

Jakarta, 31 Desember 2010

Dari aku yang mengasihiMu.

Saturday, January 1, 2011

Selamat datang 2011


Tahun Baru 2011 - Monica Maria Meifung

Mari kita lepas dan sambut waktu
Menghitung hari merajut minggu
Menghimpun berkat menjadi satu
Seraya dendangkan sebuah lagu

Madahkan syukur bagi Tuhan
Tuk anugerah teman dan saudara
Bersama menggalang paguyuban
Menghadapi suka dan duka lara

Lalui bulan merangkum tahun
Berdiri menghadap Sang Kuasa
Lihat diri lewati padang gurun
Hangat di pelukan Yang Perkasa

RahmatNya tak pernah kurang
RencanaNya tak pernah gagal
Segenap talenta harus digalang
Jadi abdi penuh daya dan akal

RinduNya tak pernah padam
KasihNya tak pernah pudar
Mari cintai yang remuk redam
Tuk hadapi hidup dengan tegar

Selamat datang di tahun yang baru
Buka jendela jiwa menabur kasih
Beri warna-warni di lembaran baru
Dengan pelangi di Tangan Pengasih

Sunday, December 26, 2010

Selamat datang Yesusku


Natal 2010
Monica Maria Meifung

Terang kelahiranMu 
jadi cahaya jiwaku
KesederhanaanMu
jadi kekayaanku
KerapuhanMu
jadi kekuatanku

Manis wajahMu
mengobati kepahitanku
Rentang tanganMu
memeluk ketakutanku
TangisanMu sebagai Bayi
memecah keterasinganku

Iman ibuMu
menumbuhkan percayaku
Kepekaan ayahMu
melenturkan hatiku
PengungsianMu dari kejaran si jahat
menjamin keselamatanku di dalam Engkau

Selamat datang, Yesusku


          

Saturday, December 18, 2010

Adven 4


Monica Maria Meifung - Adven 4 / 2010

Anak dara dikunjungi malaikat
Hadapi pengutusan luar biasa
Ia disebut penuh rahmat
Yang dikandung tanpa dosa

Sang suami merasa kikuk
Kuatir akan dampak buruk
Namun terbimbing dalam mimpi
Jadi pendamping yang terurapi

Dalam sejarah wahyu melaju
Menitip arah jelas tertuju
Sang Misteri membuka Diri
Dalam cinta tak terperi

Rumah dicari untuk lahir
Hanya berjumpa para kikir
Tak buka pintu meski diketuk
Tak punya hati untuk dibujuk

Ia hangat di bilik sang hewan
Tak di panggung milik hartawan
Sudi ditemui semua orang
Yang disinari cahaya terang

Monday, December 13, 2010

Adven 3


Monica Maria Meifung - Adven 3


Dunia bermegah di luar Allah
Manusia gagah mengejar berkah
Ada kesepian di balik pesta pora
Ada kehilangan di balik pura-pura

Kabar Baik ditebar para penyiar
Metanoia diserukan, ayo berbalik
Akankah kita mundur sebentar
Tatapkan diri pada Sang khalik

Penyelamat sudah dekat
Ia datang ke dunia pekat
Kita semua diajak bertobat
Dan minum dari sumber berkat

Datanglah Tuhan, datanglah
Jangan tunda dan bersegeralah
Kau lihat betapa dunia lelah
Penuh beban manusia lemah

Datanglah....
Datanglah....
Datanglah.... Tuhan

Tuesday, December 7, 2010

Siapa itu Santa Claus ??


St.Nicholas, 
Uskup Myra
Setiap 6 Desember Gereja merayakan pesta St. Nicholas, seorang Uskup di Mira (Asia Kecil) yang hidup sekitar abad ke-4. Beliau adalah seorang Santo nasional Rusia. Mungkin tidak begitu banyak yang tahu mengenai kehidupan sesungguhnya dan teladan yang diwariskannya kepada umat Gereja. Orang sibuk membeli pakaian dan aksesoris Natal yang manis dan lucu-lucu karena hari tersebut biasanya lebih dikenal sebagai hari Santa Claus alias Sinterklaas : tokoh ”badut” Natal yang lucu, sangat disukai oleh anak-anak karena terkenal sebagai 'pemberi hadiah Natal'. Disukai pula oleh para orang tua karena melaluinya mereka memperoleh suatu medium istimewa untuk menyalurkan hadiah-hadiah kepada anak-anak mereka disertai dengan nasehat-nasehat penuh wibawa yang juga dititipkan melalui Sinterklaas. Para orang tua juga senang karena hal itu dapat menjadi hiburan efektif bagi anak-anak mereka.
Tokoh Sinterklaas dalam Tradisi Natal ini seperti rada ’kebablasan’ alias berkembang terlalu jauh dari pesta St. Nicholas yang sebenarnya mau dikenang dan dihayati oleh Gereja. St.Nicholas, Uskup yang saleh itu dimitologikan dan diberi ’gambaran lucu-lucuan’ dalam figur Sinterklaas oleh Tradisi pra-kristen Eropa yang hidup dalam iklim yang bukan katolik

Mari kita simak sejenak siapa St. Nicholas itu.*)
"Beliau termasuk santo yang paling populer sehingga dijadikan pelindung banyak kota, provinsi, keuskupan dan gereja. Ia juga adalah pelindung para pelaut dan pedagang. St Nicholas dikenal sebagai Uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang yang terinjak-injak dan kaum miskin. Ketika penganiayaan berlangsung gencar ia menguatkan iman umatnya, dan di saat-saat tenang ia melindungi umat dari bidaah-bidaah (aliran-aliran yang menyebarkan ajaran sesat). Diantara banyak ceritera tentang St. Nicholas, ada sebuah ceritera menarik dan membuatnya dikenal sebagai Uskup yang mencintai dan melindungi anak-anak. Suatu hari Nikolas mendengar ada seorang bapa yang terlilit hutang besar. Karena tidak dapat melunasi hutangnya, bapa ini berniat menyerahkan tiga orang putrinya ke tempat pelacuran. Diam-diam pada suatu malam Uskup Nicholas melemparkan tiga bola emas ke kamar bapa itu, sehingga selamatlah ketiga putrinya dari lembah dosa dan akhirnya ketiga gadis itu menikah secara terhormat."   

Itulah sebabnya mengapa St. Nicholas dikenang dan dirayakan oleh Gereja. Beliau adalah Uskup yang memiliki keunggulan dalam membela orang miskin dan memberi perhatian kepada anak-anak yang menderita. Maka riwayat hidup dan teladan St. Nicholas yang dirayakan setiap tanggal 6 Desember, cocok untuk dikenangkan dalam masa Advent. Maksudnya, supaya kita mau lebih terlibat dalam mensyukuri kebaikan Tuhan atas hidup kita melalui tindakan-tindakan konkret membantu orang miskin dan memberi perhatian kepada anak-anak yang menderita karena kemiskinan orang tuanya.

Ini dapat menjadi sikap tobat yang dinantikan dari kita untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Pesta hadiah-hadiah, makan-minum, baju-baju baru yang bagus, pohon-pohon, lampu-lampu dan gua-gua natal nan romantis, biarlah menyusul sebagai buah syukur sesudah kita membangun sikap berjaga-jaga yang dicanangkan melalui Advent. Lilin-lilin koronka bukan ajakan untuk pesta dan berburu belanjaan Natal yang memuaskan panca indra, ia menawarkan rahmat Allah yang mengasah kepekaan untuk lebih bersikap peduli dalam mengatasi kemiskinan dan membela anak-anak yang menderita karena korban ketidakadilan, seperti teladan yang diwariskan oleh Uskup Nicholas yang dikenal sebagai Sinterklaas. 

Ayo kita berjuang ! Mari menyongsong Natal dengan meningkatkan semangat dan upaya mengulurkan tangan kepada sesama yang menderita. Yesus, Putera Allah datang ke dunia dengan mengenakan kemanusiaan dan kemiskinan kita sebagai manusia yang tidak mempunyai apa-apa... 

*)  Heuken, A, SJ, 1997, Ensiklopedi Orang Kudus, Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka, hlm 232-234.